Mengintip Prospek Bisnis Lewat Kartu

Posted on Kamis,29 Januari, 2009

0


Tarot Indonesia – Tarot Indonesia Blog

Bila pikiran mulai kusut, tak ada salahnya mencoba sensasi menyingkap masa depan lewat kartu tarot. Ini bukan klenik. Simbol yang terpampang bisa menjadi cara efektif mendongkrak rasa percaya diri dan mengantisipasi masalah.

Mana yang lebih baik: bertahan menjadi direktur di perusahaan ternama tetapi sedang dirundung masalah, menerima tawaran menjadi direktur di perusahaan baru yang didirikan kolega, atau merintis usaha sendiri? Ketiganya sama-sama menantang. Menghadapi kondisi semacam itu, apa yang Anda lakukan? Melakukan sejumlah kalkulasi, itu pasti. Atau, Anda bisa juga mencari nasihat dari rekan-rekan yang lebih senior. Namun, ketika semua itu tak kunjung menenteramkan hati Anda, Leonardo Rimba memberi usulan menarik: bertanyalah kepada kartu tarot.

Caranya mudah. Anda berkonsentrasi dan kocoklah kartu tarot. Sejurus kemudian, si pewacana tarot (tarot reader) akan mengurai kartu yang Anda kocok mengikuti susunan tertentu. Setelah itu, acara mengintip masa depan pun dimulai. Jika Anda ingin jawaban yang spesifik, pertanyaannya pun harus spesifik. “Harus jelas dan lugas,” terang Leo, sang Master Tarot. Contohnya, seperti kasus tadi, pertanyaan yang bisa Anda ajukan adalah, “Apakah saya harus bertahan di tempat kerja sekarang?” Apabila kartu menunjukkan jawaban negatif, pertanyaan serupa diajukan untuk pilihan kedua dan seterusnya.

“Tarot bukan klenik, komunikasi dengan roh jahat, atau anggapan buruk lainnya,” tegas Leo. Ia beranalogi, jika dokter mendiagnosis penyakit lewat foto rontgen, atau psikolog yang menggunakan kartu Rorschach, maka pewacana tarot bisa melihat masa depan lewat kartu tarot. Pada titik ini, cara kerja kartu tarot sebenarnya bisa dilihat secara rasional, tanpa harus menyerempet hal-hal irasional. Menurut dia, segala simbol yang tercetak di 22 lembar kartu ini mempunyai pesan dan arti sendiri-sendiri. Jadi, meski ada dua orang yang berbeda membuka kartu bergambar sama, artinya belum tentu sama karena pertanyaan yang diajukan berbeda. “Kartu-kartu ini menyimpan jawaban tersembunyi,” imbuh pria yang mendapat gelar MBA dari Pennsylvania State University, AS, ini.

Sementara itu, Grand Master Tarot dari American Tarot Association (ATA), Ani Sekarningsih, menganalogikan tarot dengan rambu lalu lintas. Menurut dia, membaca tarot tak ubahnya seorang pengemudi mobil yang memusatkan perhatian pada sejumlah tanda di kiri-kanan jalan, seperti rambu, letak gedung atau pohon yang menjadi landmark, dan arah mata angin. Membaca tanda tersebut adalah usaha si pengemudi mengantarkan penumpang ke tempat tujuan dengan risiko sekecil-kecilnya. “Seorang pembaca tarot itu tidak meramal. Mereka hanya membacakan,” papar Ani. Lebih lanjut, kata dia, dengan membaca tarot, seseorang bisa mendapatkan sebuah terapi kejiwaan dan fisik.

Hal itu diakui oleh Bambang, nama samaran, seorang direktur pada sebuah perusahaan pembiayaan. Menurut dia, membaca tarot membuatnya tenang dan tidak mudah stres dalam menghadapi tekanan pekerjaan. Tak jarang, saat rehat makan siang, ketimbang pusing memikirkan pekerjaan yang tiada henti, Bambang membuka “klinik tarot dadakan” di ruang kerjanya. Kalau sudah begini, para pegawai dan klien bisnis rela antre untuk dibacakan nasibnya. “Tapi, kalau tidak ada keinginan untuk membaca, ya tidak terbaca,” katanya sambil tergelak. Lewat tarot, Bambang mengaku bisa mengetahui karakter setiap karyawan. Itu bisa menjadi tools baginya untuk mendekatkan diri dengan mereka.

Bambang, yang meyakini 99% pebisnis pasti memiliki “pegangan” dalam menjalankan roda usaha, menuturkan bahwa lembaran tarot bisa menguak rahasia, dari yang umum sampai yang detail, baik masa lalu maupun masa depan. “Soal akurasi tarot dengan kejadian di masa depan, timbul karena sugesti seseorang,” ucap Bambang, bijak.

Sedikit berbeda, Judith M.S. Lubis, ketua dewan pengawas Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari), melihat tarot sebagai hal yang dapat menyeimbangkan hidupnya. Sebagai seseorang yang bisnisnya bersentuhan dengan teknologi informasi (TI), Judith dituntut selalu mengedepankan logika dan rasionalitas. Semuanya serba eksak. Sementara itu, saat membaca tarot, ia wajib mengikuti intuisi karena semua jawaban yang disodorkan serba tersirat. “Saya ingin mencari korelasi dari dua dunia yang berbeda,” kata Judith, yang baru lima bulan terakhir mempelajari tarot.

Dongkrak Percaya Diri

Bagi pebisnis, tentu menyenangkan bisa mencuri start dengan mengetahui masa depan. Pasalnya, lewat kartu tarot, seseorang bisa mengintip probabilitas keberhasilan deal bisnis yang sedang dijajaki, melihat klien mana saja yang menguntungkan, atau justru mencari akar masalah di perusahaan. Lebih lanjut Leo menuturkan, lambang yang ada di kartu tarot tidak begitu saja muncul secara random, tetapi bekerja melalui prinsip tertentu, yakni penggabungan alam sadar dan bawah sadar. “Orang kadang bertanya hanya untuk memberi penegasan, apakah pilihannya sudah benar atau belum,” kata dia.

Budi Wisnumurti, bukan nama sebenarnya, pemilik salon dan spa di selatan Jakarta, mengangguk setuju. Ia gemar membuka tarot saat hendak mengambil keputusan penting. “Biar lebih mantap, saya merasa harus membuka tarot saat akan merombak perusahaan dan memilih mitra baru,” tegasnya. Urutan kartu yang terbuka, menurut Budi, merupakan urutan kejadian yang kelak ia hadapi.

Memang, tak serta merta Budi meneguhkan keyakinan pada lembaran kartu. Dia juga melakukan kalkulasi bisnis, atau menelusuri track record calon mitra kerjanya. Tarot hanya ia gunakan untuk melakukan kroscek atas keputusan bisnis yang bakal diambilnya. “Ini masalah rasa percaya diri saja,” kata dia, sembari tersenyum.

Setali tiga uang, Judith melihat tarot sebagai media refleksi dan introspeksi. Ketika mendapati jawaban positif, Judith tidak langsung girang. Begitu pula sebaliknya, jika ternyata pilihan bisnisnya bakal merugi, ia tak serta merta sedih dan putus asa. Aktivis komunitas Air Putih ini justru akan mencari strategi terbaik untuk menghindari hal-hal yang tersirat pada lembaran kartu tarot. “Kita harus terus berusaha. Kalau tidak, Tuhan pun akan enggan mengubah nasib,” kata dia, menyitir ayat kitab suci.

Apa yang dilakukan Budi dan Judith diamini Leo. Katanya, pada dasarnya pewacanaan tarot adalah proyeksi masa kini ke masa depan. “Kalau pernah belajar matematika, pasti paham teori proyeksi titik koordinat di satu bidang ke bidang lain di seberang axis X atau axis Y. Apabila titik koordinat yang baru tidak sesuai keinginan, kita harus mengubah titik koordinat asal,” urai Leo. Sama halnya dengan pewacanaan, apabila hasilnya diramalkan buruk, maka ada sesuatu yang harus diubah sehingga masa depan bisa menjadi baik.

Leo mengaku tak mudah menyampaikan hasil jawaban kepada klien—istilah dia untuk orang yang minta dibacakan tarot. “Ada yang mudah menerima arahan, ada juga yang susah,” katanya. Ini memaksa Leo selalu mengikuti temperamen, latar belakang agama, dan intelektualitas klien. Ia mematok tarif Rp500.000 per jam bagi klien yang ingin dibacakan kartu tarot. Ia mengaku sering memberi konsultasi tarot bagi eksekutif, di antaranya direktur salah satu perusahaan rokok ternama, general manager sebuah perusahaan farmasi asing, hingga direktur kantor akuntan publik terkenal. Biasanya, para eksekutif ini bertemu Leo saat makan siang di kafe atau justru di ruangan kantor setelah jam kerja. Sayang, banyak dari mereka malu-malu mengakui pernah mendapatkan jasa konsultasi dari Leo.

Leo melihat ada perbedaan karakteristik pertanyaan yang diajukan eksekutif level menengah dan atas. Menurut Leo, pertanyaan mereka yang di level menengah cenderung amat spesifik. Misalnya, cara efektif untuk mencapai posisi lebih tinggi. Adapun kalangan direksi lebih senang menanyakan hal-hal global, seperti tren bisnis ke depan atau kelanggengan usaha. Bagaimana dengan ekspatriat? “Mereka selalu mengajukan ‘berapa lama lagi berada di Indonesia’ sebagai pertanyaan pertama,” kata sarjana politik dari Universitas Indonesia ini, tergelak. Leo mengaku tidak tahu pertanyaan tersebut diajukan karena si klien bule itu tidak betah atau justru senang bekerja di negeri ini.

Sementara itu, Ani Sekarningsih mengaku dalam seminggu setidaknya ada tiga hingga lima eksekutif yang berkonsultasi dengan dia. Ani mematok harga berbeda untuk konsultasi pada hari kerja dan akhir pekan. Mulai Senin hingga Jumat, tarif konsultasi tarot hanya Rp300.000 per jam, sedangkan pada Sabtu dan Minggu bisa dua kali lipatnya. “Ini hanya untuk kasus pribadi si pebisnis. Tapi, kalau konsultasi untuk urusan perusahaan, tarifnya berbeda,” tutur Ani. Untuk membuat nama perusahaan, misalnya, tarifnya bisa mencapai Rp10 juta.

Perkembangan teknologi memungkinkan konsultasi tarot tidak harus bertatap muka. Baik Leo maupun Ani juga menerima konsultasi lewat telepon, e-mail, atau instant messenger. Caranya mudah. Asalkan si penanya memiliki satu set kartu tarot, ia bisa mengocok, menyebar, dan membukanya sendiri. Nantinya, biar Leo atau Ani yang akan membaca dan mengartikannya.

Belajar Membaca Tarot

Hampir seluruh pewacana tarot sengaja membatasi waktu konsultasi karena banyak klien (atau pasien, istilah yang dipakai Ani) mengulang pertanyaan yang sama. Meski meyakini hidup adalah sebuah rangkaian pertanyaan, Ani berharap, pasien cukup sekali datang dan berkonsultasi tarot untuk mendapatkan pencerahan bagi hidupnya di masa datang. Lalu, bagaimana jika pebisnis tak mampu membendung rasa penasaran? Ikut saja sekolah atau kursus membaca tarot. Di Jakarta, ada beberapa pihak yang menyediakan. Di antaranya, Padepokan Tarot Indonesia milik Ani Sekarningsih, Magic Station di Cinere Mall, Jakarta, atau kelas tarot asuhan psikolog Rubiana Soeboer yang mengambil tempat di Hotel Sahid, Jakarta.

Di Padepokan Tarot Indonesia, semula Ani mensyaratkan mereka yang ingin bisa membaca tarot harus ikut kelas enam hari dalam seminggu. Ternyata, banyak yang tak punya waktu luang sebanyak itu. Akhirnya, ia membentuk “kelas akselerasi”, yakni siswa cukup hadir dalam dua kali pertemuan, masing-masing empat jam. “Untuk waktu pertemuan, saya ikut perjanjian dengan murid saja,” tutur Ani, yang mematok Rp3 juta untuk satu paket membaca tarot. Ia mengklaim siswanya bisa menguasai dasar-dasar membaca tarot pada pertemuan pertama. Sebenarnya, banyak eksekutif yang mengikuti kelas di padepokan Ani di kawasan Lebak Bulus. Namun, Ani enggan menyebutkan nama-nama siswanya.

Sementara itu, cara Rubiana Soeboer dalam menyebarkan ilmu tarot cukup unik. Selain membuka kelas tarot di hotel, ia juga menyisipkan pelajaran tarot dalam mata kuliah Psikologi Terapan. Maklum, selain menjadi pewacana tarot, Rubi juga dosen psikologi di Universitas Indonesia. Soal tarif, Rubi tak seterbuka Ani. “Saya hanya menyebarkan ilmu, bukan berbisnis,” kelitnya. Kendati demikian, tak jarang ia mendapat bayaran tinggi dari sejumlah eksekutif yang belajar tarot darinya.###

Posted in: bisnis, Karier